Category Archives: Midwifery

Vitamin K

Standard

Bayi baru lahir cenderung memiliki kadar vitamin K dan cadangan vitamin K dalam hati yang relatif lebih rendahdibanding bayi yang lebih besar. Sementara asupan vitamin K dari ASI belum mencukupi (0,5 ng/L), sedangkan vitamin K dari makanan tambahan dan sayuran belum dimulai. Hal ini menyebabkan bayi baru lahir cenderung mengalami defisiensi vitamin K sehingga beresiko tinggi untuk mengalami PDVK (Perdarahan akibat Defisiensi vitamin K). Di beberapa negara Asia angka kesakitan bayi karena PDVK berkisar antara 1 : 1.200 sampai 1 : 1.400 Kelahiran Hidup. Angka tersebut dapat turun menjadi 1 : 10.000 dengan pemberian profilaksis vitamin K pada bayi baru lahir.

Permasalahan akibat PDVK adalah terjadinya perdarahan otak dengan angka kematian 10-50% yang umumnya terjadi pada bayi dalam rentang umur 2 minggu sampai 6 bulan, dengan akibat angka kecacatan 30-50%. Secara nasional belum ada data PDVK, sedangkan data dari bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM (tahun 1990-2000)menunjukkan terdapatnya 21 kasus, diantaranya 17 (81%) mengalami komplikasi perdarahan intrakranial (catatan medik IKA RSCM 2000).Selain itu, satu akibat defisiensi vitamin K terlihat pada kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) berupa perdarahan yang timbul sekitar 2 jam sampai 8 hari paska imunisasi. data dai Komnas KIPI jumlah kasus perdarahan paska imunisasi yang diduga karena defisiensi vitamin K selama tahun 2003 sampai 2006 sebanyak 42 kasus, dimana 27 kasus (65%) diantaranya meninggal.

Dalam beberapa kali Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak (KONIKA) dan Kongres Perhimpunan Hematologi dan Transfusi darah Indonesia (PHTDI) ke VIII tahun 1998 dan ke IX tahun 2001 telah direkomendasikan pemberian profilaksis vitamin K pada bayi baru lahir. hal ini mendorong dilakukan kajian oleh Health Technology Assesment (HTA) Depkes bekerjasama dengan organisasi profesi terhadap pemberian injeksi vitamin K1 profilaksis pada bayi baru lahir, yang merekomendasikan bahwa bahwa:

semua bayi baru lahir harus mendapat profilaksis vitamin K, regimen vitamin K yang digunakan adalah vitamin K1, dan cara pemberian secara intramuskulas (Rekomendasi A)

pr_3245

Pengertian Vitamin K

Vitamin K adalah vitamin yang larut dalam lemak, merupakan suatu naftokuinon yang berperan dalam modifikasi dan aktivasi beberapa protein yang berperan dalam pembekuan darah, seperti faktor II, VII, IX, X, dan antikoagulan protein C dan S, serta beberapa protein Z dan M yang belum banyak diketahui peranannya dalam pembekuan darah.

Ada tiga bentuk vitamin K yang diketahui yaitu:

  • Vitamin K1  (phytomenadione) terdapat pada sayuran hijau. Sediaan yang ada saat ini adalah cremophor dan vitamin vitamin K mixed micelles (KMM).
  • Vitamin K2 (menaquinone) disintesis oleh flora usus normal seperti bacteriodes fragilis dan beberapa strain E.coli
  • Vitamin K3 (menadione) yang sering dipakai sekarang merupakan vitamin K sintetik tetapi jarang diberikan lagi pada neonatus karena menyebabkan anemia hemolitik.

Secara fisiologis kadar faktor koagulasi yang tergantung vitamin K dalam tali pusat sekitar 50% dan akan menurun dengan cepat mencapai titik terendah dalam 48-72 jam setelah kelahiran. Kemudian kadar faktor ini akan bertambah secara perlahan selama beberapa minggu tetap berada dibawah kadar orang dewasa. Peningkatan ini disebabkan oleh absorpsi vitamin K dari makanan. Sedangkan bayi baru lahir relatif kekurangan vitamin K karena berbagai alasan, antara lain karena simpanan vitamin K yang rendah pada waktu lahir, sedikitnya transfer vitamin K melalui plasenta, rendahnya kadar vitamin K pada ASI dan sterilitas saluran cerna.

Sediaan vitamin K yang ada di Indonesia adalah vitamin K3 (menadione) dan vitamin K1 (phytomenadione). Yang direkomendasikan oleh berbagai negara di dunia adalah vitamin K1. Australia sudah menggunakan vitamin K1 sebagai regimen profilaksis vitamin K pada bayi baru lahir (sejak tahun 1961). Hasil kajian HTA tentang pemberian profilaksis dengan vitamin K adalah vitamin K1.

Cara Pemberian Injeksi Vitamin K1 Profilaksis

  1. Semua bayi baru lahir harus diberikan injeksi vitamin K1 profilaksis.
  2. Jenis vitamin K yang digunakan adalah vitamin K1 (phytomenadione) injeksi dalam sediaan ampul yang berisi 10 mg Vitamin K1 per 1 ml.
  3. Cara pemberian profilaksis injeksi vitamin K1 adalah :
    • Masukkan vitamin K1 ke dalam semprit sekali pakai steril 1 ml, kemudian disuntikkan secara intramuskular di paha kiri bayi bagian anterolateral sebanyak 1 mg dosis tunggal, diberikan paling lambat 2 jam setelah lahir.
    • Vitamin K1 injeksi diberikan sebelum pemberian imunisasi hepatitis B0 (uniject), dengan selang waktu 1-2 jam.
  4. Pada bayi yang akan dirujuk tetap diberikan vitamin K1 dengan dosis dan cara yang sama.
  5. Pada bayi yang lahir tidak ditolong bidan, pemberian vitamin K1 dilakukan pada kunjungan neonatal pertama (KN 1) dengan dosis dan cara yang sama.
  6. Setelah pemberian injeksi vitamin K1, dilakukan observasi.

Persiapan Melakukan Suntikan Intra Muskular

  1. Letakan bayi dengan posisi punggung di bawah.
  2. Lakukan desinfeksi pada bagian tubuh bayi yang akan diberikan suntikan intramuskular (IM).
    • Muskulus Kuadriseps pada bagian antero lateral paha (lebih dipilih karena resiko kecil terinjeksi secara IV atau mengenai tulang femur dan jejas pada nervus skiatikus).
    • Muskulus deltoideus (Mengandung sedikit lemak atau jaringan subkutan sehingga memudahkan penyuntikan). Area ini digunakan hanya untuk pemberian imunisasi bukan untuk pemberian obat lain.

Cara Memberikan Suntikan Intra Muskular

  1. Pilih daerah otot yang akan disuntik. Untuk memudahkan identifikasi suntikan vitamin K1 di paha kiri dan suntikan imunisasi HB0 di paha kanan.
  2. Bersihkan daerah suntikan dengan kasa atau bulatan kapas yang telah direndam dalam larutan antiseptik dan biarkan mengering.
  3. Yakinkan bahwa jenis dan dosis obat yang diberikan sudah tepat.
  4. Isap obat yang akan disuntikkan kedalam semprit dan pasang jarumnya.
  5. Bila memungkinkan pegang bagian otot yang akan disuntik dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk.
  6. Dengan satu gerakan cepat, masukkan jarum tegak lurus melalui kulit.
  7. Tarik tuas semprit perlahan untuk meyakinkan bahwa ujung jarum tidak menusuk dalam vena.
  8. Bila dijumpai darah:
    • Cabut jarum tanpa menyuntikkan obat
    • Pasang jarum steril yang baru ke semprit
    • Pilih tempat penyuntikkan yang lain
    • Ulangi prosedur diatas
  9. Bila tidak dijumpai darah, suntikan obat dengan tekanan kuat dalam waktu 3-6 detik.
  10. Bila telah selesai, tarik jarum dengan sekali gerakan halus dan tekan dengan bola kasa steril kering.
  11. Catat tempat penyuntikan untuk memudahkan identifikasi.

download1

 

credit: Kementerian Kesehatan RI. 2011. Pedoman Teknis Pemberian Injeksi Vitamin K1 Profilaksis pada Bayi Baru Lahir. Depkes RI.

Advertisements

SEJARAH SINGKAT IMUNISASI DI INDONESIA

Standard

Program imunisasi merupakan upaya kesehatan masyarakat yang terbuktu paling cost effective dan telah diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956. Dengan program ini, Indonesia dinyatakan bebeas dari penyakit cacarsejak tahun 1974. Mulai tahu 1977 kegiatan imunisasi diperluas menjadi Program Pengembangan Imnunisasi (PPI) dalam rangka pencegahan penularan terhadap beberapa Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yaitu Tuberkolosis, Difteri, Pertusis, Campak, Polio, Tetanus, Hepatitis B, serta Pneumonia.

Sejarah perkembangan imunisasi di Indonesia terlihat pada tabel di bawah ini:

Tahun
Perkembangan Imunisasi
1956
Imunisasi Cacar
1973
Imunisasi BCG
1974
Imunisasi TT pada ibu hamil
1976
Imunisasi DPT pada bayi
1977
Imunisasi dijadikan upaya global oleh WHO (EPI = Expanded Program on Immunization)
1980
Imunisasi Polio
1982
Imunisasi Campak
1990
Indonesia mencapai UCI Nasional
1997
Imunisasi Hepatitis B
2004
Introduksi DPT-HB
2013
Introduksi vaksin DPT/HB/HiB

Penyakit lain yang sudah dapat ditekan sehingga perlu ditingkatkan programnya adalah tetanus maternal dan neonatal serta campak. Untuk tetanus telah dikembangkan upaya Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (Maternal Neonatal Tetanus Elimination / MNTE). Terhadap penyakit campak dikembangkan upaya Reduksi Campak (RECAM) dan untuk penyakit polio dilakukan upaya eradikasi polio (ERAPO). ERAPO, MNTE dan RECAM juga merupakan komitmen global yang wajib diikuti oleh semua Negara di dunia. Di samping itu, dunia juga menaruh perhatian terhadap mutu pelayanan dengan menetapkan standar pemberian suntikan yang aman (safe injection practices) bagi penerima suntikan yang dikaitkan dengan pengelolaan limbah medis tajam yang aman (safe waste diposal management), bagi petugas maupun lingkungan.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa program imunisasi ke dalam penyelenggaraan pelayanaan yang bermutu dan efisien. Upaya tersebut didukung dengan kemajuan yang pesat dalam bidang penemuan vaksin baru (Rotavirus, Japanese Encephalitis, dan lain-lain). Perkembangan teknologi lain adalah menggabungkan beberapa jenis vaksin sebagai vaksin kombinasi yang terbukti dapat meningkatkan cakupan imunisasi, mengurangi jumlah suntikan dan kontak dengan petugas imunisasi.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa upaya imunisasi perlu terus ditingkatkan untuk mencapai population immunity (kekebalan masyarakat) yang tinggi sehingga PD3I dapat dibasmi, dieliminasi atau dikendalikan. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, upaya imunisasi dapat semakin efektif, bermutu dan efisien.

 

Sumber:

Direktorat SIMKAR dan KESMA Kementerian Kesehatan RI. 2013. Modul Pelatihan Vaksin Baru. Yogyakarta: Dinas Kesehatan DIY

Perawatan Metode Kanguru (PMK) atau Kangaroo Mother Care (KMC)

Standard

Masalah utama bayi baru lahir pada masa perinatal dapat menyebabkan kematian, kesakitan dan kecacatan. Hal ini merupakan akibat dari kondisi kesehatan ibu yang jelek, perawatan selama kehamilan yang tidak adekuat, penanganan selama persalinan yang tidak tepat dan tidak bersih, serta perawatan neonatal yang tidak adekuat. Bila ibu meninggal saat melahirkan, kesempatan hidup yang dimiliki bayinya menjadi semakin kecil. Kematian neonatal tidak dapat diturunkan secara bermakna tanpa dukungan upaya menurunkan kematian ibu dan meningkatkan kesehatan ibu. Perawatan antenatal dan pertolongan persalinan sesuai standar, harus disertai dengan perawatan neonatal yang adekuat dan upaya-upaya untuk menurunkan kematian bayi akibat bayi berat lahir rendah, infeksi pasca lahir (seperti tetanus neonatorum, sepsis), hipotermia dan asfiksia. Sebagian besar kematian neonatal yang terjadi pasca lahir disebabkan oleh penyakit – penyakit yang dapat dicegah dan diobati dengan biaya yang tidak mahal, mudah dilakukan, bisa dikerjakan dan efektif.

Penyebab Kematian Neonatal di Indonesia Penyebab Kematian Neonatal Berdasarkan SKRT tahun 2001

  • Asfiksia 29%
  • BBLR/ Prematuritas 27%
  • Tetanus 10%
  • Masalah Pemberian ASI 10%
  • Masalah Hematologi 6%
  • Infeksi 5%

Penyebab Kematian Neonatal Berdasarkan Riskesdas tahun 2007

  • Gangguan/Kelainan Pernapasan 35,9%
  • Prematuritas 32,4%
  • Sepsis 12%
  • Hipotermi 6,3%
  • Kelainan darah/Ikterus 5,6 %
  • Post Matur 2,8%
  • Kelainan Kongenital 1,4%

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

Sekitar 11,5 % bayi lahir dengan berat lahir rendah kurang dari 2500 gram (Riskesdas 2007). Data dari SKRT 2001 menunjukkan bahwa Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor terpenting kematian neonatal. Penyumbang utama kematian BBLR adalah prematuritas, infeksi, asfiksia lahir, hipotermia dan pemberian ASI yang kurang adekuat. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa kematian karena hipotermia pada bayi berat lahir rendah (BBLR) dan bayi prematur jumlahnya cukup bermakna. Perilaku/kebiasaan yang merugikan seperti memandikan bayi segera setelah lahir atau tidak segera menyelimuti bayi setelah lahir, dapat meningkatkan risiko hipotermia pada bayi baru lahir. Intervensi untuk menjaga bayi baru lahir tetap hangat dapat menurunkan kematian neonatal sebanyak 18-42% (The Lancet Neonatal Survival 2005).

Air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi hingga berusia 6 bulan.Walaupun proporsi bayi yang pernah mendapat ASI cukup tinggi yaitu 95,7% (SDKI 2007), namun proporsi ASI eksklusif pada bayi 0 – 6 bulan masih rendah yaitu 32,4% (SDKI 2007), demikian juga dengan proporsi bayi mendapat ASI sekitar 1 jam setelah lahir yaitu 43,9% (SDKI 2007). Tidak memberikan kolostrum merupakan salah satu kebiasaan merugikan yang sering ditemukan. Pemberian ASI dapat menurunkan kematian neonatal hingga 55-87% (The Lancet Neonatal Survival 2005).

Perawatan Metode Kanguru (PMK)

BBLR membutuhkan bantuan dan waktu untuk penyesuaian kehidupan di luar rahim. Mereka juga memerlukan bantuan untuk tetap hangat dan mendapatkan ASI yang cukup untuk tumbuh. Satu cara untuk menolong bayi mendapatkan kebutuhan ini adalah menjaga bayi tetap kontak kulit dengan kulit ibunya. Perawatan metode kanguru adalah suatu cara agar BBLR terpenuhi kebutuhan khusus mereka terutama dalam mempertahankan kehangatan suhu tubuh. Untuk melakukan PMK, tentukan bayi memiliki berat lahir <2500 gram, tanpa masalah/komplikasi.

Butir untuk diingat, diperhatikan dan dilaksanakan:

  • Perawatan metode kanguru adalah suatu cara perawatan untuk BBLR yang sederhana dan mudah dikerjakan di mana saja dengan mendekap bayi agar kulit bayi bersentuhan langsung dengan kulit ibu.
  • Kontak kulit bayi dengan ibu dapat mempertahankan suhu bayi, mencegah bayi kedinginan
  • Keuntungan untuk bayi: bayi menjadi hangat, bayi lebih sering menetek, banyak tidur dan tidak rewel, sehingga kenaikan berat badan lebih cepat
  • Keuntungan untuk ibu: hubungan kasih sayang lebih erat dan ibu bisa bekerja sambil menggendong bayinya.

Syarat melakukan PMK :

  • Bayi tidak mengalami Kesulitan Bernapas
  • Bayi tidak mengalami Kesulitan Minum
  • Bayi tidak Kejang
  • Bayi tidak Diare
  • Ibu dan keluarga bersedia dan tidak sedang sakit

Lakukan PMK untuk menghangatkan bayi bila memenuhi syarat diatas. Metoda kanguru sangat baik dilakukan selama dalam perjalanan ke tempat rujukan. Metoda ini berguna untuk mempercepat terjadinya kestabilan suhu tubuh dan merangsang bayi baru lahir segera mengisap puting payudara ibu.

Pelaksanaan PMK memiliki 4 komponen :

  1. Posisi
  2. Nutrisi
  3. Dukungan
  4. Pemantauan
  1. Posisi Melakukan Perawatan Metode Kanguru (PMK)

Bayi telanjang dada (hanya memakai popok,topi, kaus tangan, kaus kaki), diletakkan telungkup di dada dengan posisi tegak atau diagonal. Tubuh bayi menempel/kontak langsung dengan ibu. Atur posisi kepala, leher dan badan dengan baik untuk menghindari terhalangnya jalan napas. Kepala menoleh ke samping di bawah dagu ibu (ekstensi ringan). Tangan dan kaki bayi dalam keadaan fleksi seperti posisi “katak”

pmk

Kemudian “fiksasi” dengan selendang

 pmk2

Ibu mengenakan pakaian/blus longgar sehingga bayi berada dalam 1 pakaian dengan ibu. Jika perlu, gunakan selimut.

 pmk3

Sumber gambar: www.dokteranakku.net

2.      Nutrisi. 

Selama pelaksanaan PMK, BBLR hanya diberikan ASI. Melalui PMK akan mendukung dan mempromosikan pemberian ASI eksklusif, karena ibu menjadi lebih cepat tanggap bila bayi ingin menyusu. Bayi bisa menyusu lebih lama dan lebih sering. Bila bayi dibawa ke fasilitas kesehatan dan bayi tidak mampu menelan ASI dapat dilakukan pemasangan Oro Gastric Tube (OGT) untuk dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

3.      Dukungan.

Keluarga memberikan dukungan pada ibu dan bayi untuk pelaksanaan perawatan metoda kanguru. Di fasilitas kesehatan , pelaksanaan PMK akan dibantu oleh petugas kesehatan.

4.      Pemantauan. 

BBLR yang dirawat di fasilitas kesehatan yang dapat dipulangkan lebih cepat (berat < 2000 gram) harus dipantau untuk tumbuh kembangnya. Apabila didapatkan tanda bahaya harus dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Kunjungi BBLR minimal dua kali dalam minggu pertama, dan selanjutnya sekali dalam setiap minggu sampai berat bayi 2500 gram dengan mempergunakan algoritma MTBM.

Hal- hal yang perlu dipantau selama PMK:

  • Pastikan suhu aksila normal (36,5 – 37,5 ° C )
  • Pastikan pernapasan normal (30-60 X/menit)
  • Pastikan tidak ada tanda bahaya
  • Pastikan bayi mendapatkan ASI yang cukup (minimal menyusu tiap 2 jam)
    Pastikan pertumbuhan dan perkembangan baik (berat badan akan turun pada minggu pertama antara 10-15%, pertambahan berat badan pada minggu kedua 15g/KgBB/hari).

Sumber :

BUKU SAKU Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial Pedoman Teknis Pelayanan Kesehatan Dasar, Kementerian Kesehatan RI, 2011

http://www.dokteranakku.net

Screening Hipotiroid Kongenital

Standard

Hipotiroid artinya kekurangan hormon tiroid, yaitu hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar tiroid atau kelenjar gondok. yang disebabkan oleh gangguan pada salah satu tingkat dari aksis hipotalamus-hipofisis-tiroid-”end organ”, dengan akibat terjadinya defisiensi hormon tiroid, serta gangguan respon jaringan terhadap hormon tiroid.

Hipotiroid kongenital (HK) adalah kekurangan hormoe tiroid sejak dalam kandungan. Kira-kira satu dari 3000 bayi lahir dengan hipotiroid kongenital. Meskipun kelainan ini jarang tetapi mungkin saja terjadi.

Letak  Kelenjar Tiroid dan Fungsinya

Kelenjar tiroid adalah kelenjar kecil yang berbentuk seperti kupu-kupu, terletak pada bagian depan leher. Terdapat 2 hormon tiroid yaitu tiroksin atau T4 dan triilodotironi atau T3, dan hormon-hormon itu khusus dibuat di dalam kelenjar tiroid. Produksi T3 dan T4 merupakan proses yang kompleks dan dapat dikatakan unik untuk kelenjar tiroid. Iodium merupakan unsure utama yang diperlukan untuk membuat hormon tiroid. Iodium adalah zat gizi mikro yang diperoleh tubuh kita dari makanan termasuk garam beriodium. Jadi Iodium merupakan unsure penting di dalam nutrisi.

kelenjar tiroid

Kekurangan iodium pada ibu hamil atau sebelum hamil, seperti yang terdapat di beberapa  daerah di Indonesia, bisa menyebabkan bayi mengalami hipotiroid. Fungsi kelenjar tiroid dikendalikan oleh suatu hormon lain yaiu TSH yang dibuat dalam kelenjar hipofisis, suatu kelenjar yang terletak di otak. TSH mutlak diperlukan untuk suatu fungsi tiroid.

Hormon Tiroid memainkan peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Jika kelenjar tiroid tidak berkembang sempurna, maka tidak akan menghasilkan hormon yang cukup untuk pertumbuhan bayi dan perkembangan otak yang normal. Hormon tiroid di dalam tubuh diperlukan untuk mengoptimalkan kerja semua jaringan dan organ. Pada keadaan kekurangan hormon tiroid maka berbagai proses kehidupan akan terhambat. Karena pada jaringan otak bayi sedang berkembang sangat cepat, maka jumlah hormon tiroid yang normal amat penting untuk tumbuh kembang mereka.

Penyebab Kelenjar Tiroid Tidak Dapat Berfungsi secara Normal

Penyebab hipotiroid congenital antara lain:

  1. Kelainan pembentukan kelenjar tiroid:
    • Kelenjar tidak dibentuk (agenesis)
    • Bentuk kelenjar tidak sempurna (hipoplasia)
    • Kelenjar terletak tidak pada tempatnya (ektopik)
  2. Gangguan pada pembuatan (sintesis) hormone tiroid
  3. Kekurangan iodium pada ibu hamil

Bila kelenjar tiroid tidak berfungsi normal,hormone yang dihasilkan tidak mencukupi kebutuhan tubuh, akibatnya kelenjar hipofisis di otak memproduksi lebih banyak TSH.dengan demikian bayi-bayi ini mempunyai kadar TSH yang tinggi.

Gejala Kekurangan Hormon Tiroid

Gejala hipotiroid sangat bervariasi tergantung berat ringannnya kekurangan hormone tiroid. Seringkali pada minggu-minggu pertama setelah lahir, bayi tampak normal atau memperlihatkan gejala tidak khas seperti kesulitan bernapas, bayi kurang aktif, malas menetek, ikterus berkepanjang, hernia umbilikalis, kesulitan buang air besar, kecendurungan mengalami hipotermia.

Bila tidak segera diobati (sebelum bayi berumur 1 bulan) akan terlihat gejala hambatan pertumbuhan dan perkembangan anak berpenampilan jelek

  • Tubuh pendek (cebol)
  • Muka hipotiroid yang khas: muka sembab, lidah besar, bibir tebal, hidung pesek
  • Mental terbelakang, bodoh (IQ dan EQ rendah)
  • Kesulitan bicara

hipo

Supaya bayi tidak mengalami keadaan demikian, satu-satunya cara untuk mengetahui kelainan HK sedini mungkin dan segera mengobatinya adalah dengan tes screening (uji saring)

Pelaksanaan Screening Hipotiroid

Pada hari ke 3-5 setelah lahir, sedikit darah bayi diteteskan pada kertas saring, dikeringkan dan bercak darah kemudian dikirimkan ke laboratorium. Di laboratorium kadar hormone TSH diukur dan hasilnya dapat diketahui normal atau tidak. Hasil tes bisa diketahui dalam waktu kurang dari satu minggu. Bila hasil tidak normal, bayi akan diperiksa oleh Tim Konsultan Program Screening Bayi Baru Lahir untuk penanganan lebih lanjut.

Pengobatan Hipotiroid

Pengobatan hipotiroid dalah dengan memberikan penggantian hormone tiroid yang kurang dengan tablet hormone tiroid sintetik, disebut levotiroksin atau L-tiroksin setiap hari. Hormone sintetik ini khasiatnya sama seperti hormone yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Pada pemberian dengan dosis yang benar, tidak ada efek samping dari pengobatan hormone tiroid buatan.

Tujuan Screening Hipotiroid

Screening hipotiroid bertujuan untuk mendeteksi hipotiroid kongenitalsejak dini guna mencegah kerusakan otak yang permanen dan retardasi mental (mental terbelakang) dengan memberikan pengobatan sebelum anak berusia 1 bulan. Screening hipotiroid kongenital telah dilakukan secara rutin di seluruh Negara berkembang dengan hasil: anak dengan hipotiroid congenital yang didiagnosis melalui screening, dan segera diobati dapat tumbuh dan berkembang seperti anak normal.

Selama tablet hormone tiroid diberikan secara teratur, anak dengan hipotiroid akan memperlihatkan pertumbuhan dan perkembangan seperti anak normal, bias sekolah dan bisa bekerja.

 NOTE :

Gangguan pertumbuhan dan cacat mental yang diakibatkan oleh hipotiroid kongenital bisa dicegah dengan deteksi dini melalui  tes uji saring dan segera mengobatinya.

Sumber:  Komite Hipotiroid Kongenital Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta