Pantai Sadranan

Standard

Pantai Sadranan itu ada di Gunung Kidul, Yogyakarta. Rutenya gampang si, soalnya deketan ma pantai” yang lain. Di sana bisa snorkling, tenang gk perlu bawa dr rumah equipmentnya di sana ada yg rentalin, murah meriah (kalo kalian cewe: tawar aje, kali” dimurahin sama emas”nya) ^o^ , kalo laper warung makanan jg banyak. So kalo ke sana bawa diri, bawa temen ma bawa uang aja.

image

image

image

photo credit: owner

Nohh… Hasil pancingan pas di sana. Bagus kan pantainya.

Japanese Alphabets

Standard

Jaman SMA dulu pernah dapet Japanese Class, sama Ita-Sensei, ngajarinnya luar biasa sabar dan menguras air mata. >.< Dan sekarang review lagi mumpung ada mentornya. hehehehe.

Alphabet Jepang, ada 4 macem:

  • hiragana : huruf standard jepang (kayak abjad di alphabet kalo di Indonesia). Kalo kita mau belajar biasanya dimulai dari hiragana
  • katakana: huruf yang digunain buat nulis kata-kata serapan. berhubung abjad standard jepang tdk bisa mencakup seluruh pronounciation dari bahasa lain (kayak misalnya huruf V, huruf W, dll), orang jepang membuat beberapa huruf-huruf khusus untuk melafalkan bunyi-bunyi yang ga ada di bahasa standard jepang. jadi untuk penulisan nama orang2 asing (kayak kita2 gini), harus make huruf katakana.
  • kanji: aksara yang pertama kali dibuat oleh Cina
  • romaji: nah kalo romaji, ya alfabet biasa, kayak yg dipake di Indonesia

Buat awal kita belajar hiragana dulu ya, why?? lagi-lagi deh, Jepang kan punya alphabet sendiri, jadi harus kenal huruf apa aja di hiragana itu.

realkana2

cr: google

banyak kan, >.< okay belajar dikit-dikit dulu, 5 huruf dulu baru nanti kalo udah lanjutin lagi.

How to write hiragana?? ada pakem2 nya looo.. jangan salah, ada step-stepnya

 

ini huruf A I U E O

hiragana-a1

tulis berkali-kali dulu sampe bisa, sampe muntah, sampe apal, dan sampe kapalan. hahahahah

see you soon ^^

Lesson 1

Standard

Guysss…. Let’s study Hangul

hangul

Kalian harus tau yang namanya belajar bahasa itu gak semudah beli snack di Indomaret. pertama kalian harus niat, kedua sabar, ketiga rutin review ma nambahin vocab. Why?? Karena kalo gak rutin, ilangnya gampang. Keempat jangan gampang marah ye guys, karena marah itu bikin hafalan kita ilang dalam sekejap. Gak ngerti mekanisme kerja nya gimana, yang jelas ilmu dari kuliah dulu begitu. ^^ kita belajar pake cara ku belajar dulu ya. Semoga jelas.

Bahasa korea itu punya huruf sendiri, jadi pertama kita hafalin hurufnya. Biar bisa baca.

hangul_vocal

cr. google

Pedoman Pengucapan

dsc_1639.jpg

Descendant Of The Sun

Standard

Awal tahun yang luar biasa. Gimana gak? Ini ada drama Korea yang Hits bingo. Hits banget sampe bikin baper berkepanjangan. Judulnya Descendant Of The Sun gampangnya disingkat DOTS. Ada 16 episode dan 3 episode special. Cast-nya juga kece-kece, ada Song Joong Ki, Song Hye Kyo, Kim Ji Won, dan Jin Goo.

 

Aku kasih sinopsipnya dikit aja ya.

Jadi, drama ini menceritakan tentang tentara dan dokter. Yoo Si Jin (Joong Ki) adalah Captain pasukan khusus, dan Kang Mo Yeon (Song Hye Kyo) adalah dokter di sebuah rumah sakit di Korea. kisah percintaan mereka terbilang agak sedikit “jlimet” dan beda ma kebanyakan cerita di sinetron Indonesia. You know lahh !!! ^^ tapi kejlimetannya itu yang bikin kita baper, bikin gemes, bikin emosi, bikin nangis, bikin ketawa sendiri, padahal itu cuma drama. Next.. dan kisah cinta mereka berlanjut di Urk. Banyak hal terjadi di Urk. Sampai pada akhirnya Kang Mo Yeon yang tadinya takut pacaran sama Si Jin akhirnya mau menerimanya dengan segala konsekuensi. Okaayyy, lanjutan cerita bisa nonton dramanya sendiri. Hehehehe

 

DOTS

Btw, Joong Ki oppa yang dulunya “pretty boy” sekarang mah udah beda jauh, kayak yg dibilang sama Hye Kyo unnie di salah satu artikel “Unlike Song Joong Ki pretty appearance, he’s total masculine man”. Kyaaaa~~~~ bener-bener beda banget. Hye Kyo unnie juga cantik banget, bisa dibilang mereka itu pasangan yang memang sudah ditakdirkan bersama. Adek ikhlas kalo oppa sama unnie married. Seriusan, Songsong couple fans juga bakal setuju banget. Hahahaha

DOTS 2

cr: google

 

 

 

SEJARAH SINGKAT IMUNISASI DI INDONESIA

Standard

Program imunisasi merupakan upaya kesehatan masyarakat yang terbuktu paling cost effective dan telah diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956. Dengan program ini, Indonesia dinyatakan bebeas dari penyakit cacarsejak tahun 1974. Mulai tahu 1977 kegiatan imunisasi diperluas menjadi Program Pengembangan Imnunisasi (PPI) dalam rangka pencegahan penularan terhadap beberapa Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yaitu Tuberkolosis, Difteri, Pertusis, Campak, Polio, Tetanus, Hepatitis B, serta Pneumonia.

Sejarah perkembangan imunisasi di Indonesia terlihat pada tabel di bawah ini:

Tahun
Perkembangan Imunisasi
1956
Imunisasi Cacar
1973
Imunisasi BCG
1974
Imunisasi TT pada ibu hamil
1976
Imunisasi DPT pada bayi
1977
Imunisasi dijadikan upaya global oleh WHO (EPI = Expanded Program on Immunization)
1980
Imunisasi Polio
1982
Imunisasi Campak
1990
Indonesia mencapai UCI Nasional
1997
Imunisasi Hepatitis B
2004
Introduksi DPT-HB
2013
Introduksi vaksin DPT/HB/HiB

Penyakit lain yang sudah dapat ditekan sehingga perlu ditingkatkan programnya adalah tetanus maternal dan neonatal serta campak. Untuk tetanus telah dikembangkan upaya Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (Maternal Neonatal Tetanus Elimination / MNTE). Terhadap penyakit campak dikembangkan upaya Reduksi Campak (RECAM) dan untuk penyakit polio dilakukan upaya eradikasi polio (ERAPO). ERAPO, MNTE dan RECAM juga merupakan komitmen global yang wajib diikuti oleh semua Negara di dunia. Di samping itu, dunia juga menaruh perhatian terhadap mutu pelayanan dengan menetapkan standar pemberian suntikan yang aman (safe injection practices) bagi penerima suntikan yang dikaitkan dengan pengelolaan limbah medis tajam yang aman (safe waste diposal management), bagi petugas maupun lingkungan.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa program imunisasi ke dalam penyelenggaraan pelayanaan yang bermutu dan efisien. Upaya tersebut didukung dengan kemajuan yang pesat dalam bidang penemuan vaksin baru (Rotavirus, Japanese Encephalitis, dan lain-lain). Perkembangan teknologi lain adalah menggabungkan beberapa jenis vaksin sebagai vaksin kombinasi yang terbukti dapat meningkatkan cakupan imunisasi, mengurangi jumlah suntikan dan kontak dengan petugas imunisasi.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa upaya imunisasi perlu terus ditingkatkan untuk mencapai population immunity (kekebalan masyarakat) yang tinggi sehingga PD3I dapat dibasmi, dieliminasi atau dikendalikan. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, upaya imunisasi dapat semakin efektif, bermutu dan efisien.

 

Sumber:

Direktorat SIMKAR dan KESMA Kementerian Kesehatan RI. 2013. Modul Pelatihan Vaksin Baru. Yogyakarta: Dinas Kesehatan DIY

AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)

Standard

AMDAL merupakan singkatan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. AMDAL merupakan kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, dibuat pada tahap perencanaan, dan digunakan untuk pengambilan keputusan. Hal-hal yang dikaji dalam proses AMDAL: aspek fisik-kimia, ekologi, sosial-ekonomi, sosial-budaya, dan kesehatan masyarakat sebagai pelengkap studi kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.

AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan (Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).

 “…kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup; dibuat pada tahap perencanaan…”

Agar pelaksanaan AMDAL berjalan efektif dan dapat mencapai sasaran yang diharapkan, pengawasannya dikaitkan dengan mekanisme perijinan. Peraturan pemerintah tentang AMDAL secara jelas menegaskan bahwa AMDAL adalah salah satu syarat perijinan, dimana para pengambil keputusan wajib mempertimbangkan hasil studi AMDAL sebelum memberikan ijin usaha/kegiatan. AMDAL digunakan untuk mengambil keputusan tentang penyelenggaraan/pemberian ijin usaha dan/atau kegiatan.

 Dokumen AMDAL terdiri dari :

  1.     Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL)
  2.     Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)
  3.     Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)
  4.     Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)

Tiga dokumen (ANDAL, RKL dan RPL) diajukan bersama-sama untuk dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. Hasil penilaian inilah yang menentukan apakah rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut layak secara lingkungan atau tidak dan apakah perlu direkomendasikan untuk diberi ijin atau tidak.

 Apa guna AMDAL?

  • Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah
  • Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan
  • Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan
  • Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
  • Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan atau kegiatan

“…memberikan alternatif solusi minimalisasi dampak negatif”

“…digunakan untuk mengambil keputusan tentang penyelenggaraan/pemberi ijin usaha dan/atau kegiatan”

Bagaimana prosedur AMDAL?

          Prosedur AMDAL terdiri dari :

  •     Proses penapisan (screening) wajib AMDAL
  •     Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat
  •     Penyusunan dan penilaian KA-ANDAL (scoping)

 Penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL Proses penapisan atau kerap juga disebut proses seleksi kegiatan wajib AMDAL, yaitu menentukan apakah suatu rencana kegiatan wajib menyusun AMDAL atau tidak.

Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat. Berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 08/2000, pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatannya selama waktu yang ditentukan dalam peraturan tersebut, menanggapi masukan yang diberikan, dan kemudian melakukan konsultasi kepada masyarakat terlebih dulu sebelum menyusun KA-ANDAL.

Proses penyusunan KA-ANDAL. Penyusunan KA-ANDAL adalah proses untuk menentukan lingkup permasalahan yang akan dikaji dalam studi ANDAL (proses pelingkupan).

Proses penilaian KA-ANDAL. Setelah selesai disusun, pemrakarsa mengajukan dokumen KA-ANDAL kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal untuk penilaian KA-ANDAL adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan oleh penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali dokumennya.

Proses penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL. Penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL dilakukan dengan mengacu pada KA-ANDAL yang telah disepakati (hasil penilaian Komisi AMDAL).

Proses penilaian ANDAL, RKL, dan RPL. Setelah selesai disusun, pemrakarsa mengajukan dokumen ANDAL, RKL dan RPL kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal untuk penilaian ANDAL, RKL dan RPL adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan oleh penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali dokumennya.

Siapa yang harus menyusun AMDAL?

Dokumen AMDAL harus disusun oleh pemrakarsa suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Dalam penyusunan studi AMDAL, pemrakarsa dapat meminta jasa konsultan untuk menyusunkan dokumen AMDAL. Penyusun dokumen AMDAL harus telah memiliki sertifikat Penyusun AMDAL dan ahli di bidangnya. Ketentuan standar minimal cakupan materi penyusunan AMDAL diatur dalam Keputusan Kepala Bapedal Nomor 09/2000.

 Siapa saja pihak yang terlibat dalam proses AMDAL?

 Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah Komisi Penilai AMDAL, pemrakarsa, dan masyarakat yang berkepentingan.

 Komisi Penilai AMDAL adalah komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL. Di tingkat pusat berkedudukan di Kementerian Lingkungan Hidup, di tingkat Propinsi berkedudukan di Bapedalda/lnstansi pengelola lingkungan hidup Propinsi, dan di tingkat Kabupaten/Kota berkedudukan di Bapedalda/lnstansi pengelola lingkungan hidup Kabupaten/Kota. Unsur pemerintah lainnya yang berkepentingan dan warga masyarakat yang terkena dampak diusahakan terwakili di dalam Komisi Penilai ini. Tata kerja dan komposisi keanggotaan Komisi Penilai AMDAL ini diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, sementara anggota-anggota Komisi Penilai AMDAL di propinsi dan kabupaten/kota ditetapkan oleh Gubernur dan Bupati/Walikota.

 Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan.

Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan alasan-alasan antara lain sebagai berikut: kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha dan/atau kegiatan, faktor pengaruh ekonomi, faktor pengaruh sosial budaya, perhatian pada lingkungan hidup, dan/atau faktor pengaruh nilai-nilai atau norma yang dipercaya. Masyarakat berkepentingan dalam proses AMDAL dapat dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak, dan masyarakat pemerhati.

Apa yang dimaksud dengan UKL dan UPL ?

 Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan AMDAL (Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 86 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup).

 Kegiatan yang tidak wajib menyusun AMDAL tetap harus melaksanakan upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan.

 Kewajiban UKL-UPL diberlakukan bagi kegiatan yang tidak diwajibkan menyusun AMDAL dan dampak kegiatan mudah dikelola dengan teknologi yang tersedia.

 UKL-UPL merupakan perangkat pengelolaan lingkungan hidup untuk pengambilan keputusan dan dasar untuk menerbitkan ijin melakukan usaha dan atau kegiatan.

 Proses dan prosedur UKL-UPL tidak dilakukan seperti AMDAL tetapi dengan menggunakan formulir isian yang berisi :

  1.     Identitas pemrakarsa
  2.     Rencana Usaha dan/atau kegiatan
  3.     Dampak Lingkungan yang akan terjadi
  4.     Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
  5.     Tanda tangan dan cap

Formulir Isian diajukan pemrakarsa kegiatan kepada :

  1. Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Kabupaten/Kota untuk kegiatan yang berlokasi pada satu wilayah kabupaten/kota
  2. Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi untuk kegiatan yang berlokasi lebih dari satu Kabupaten/Kota
  3. Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan untuk kegiatan yang berlokasi lebih dari satu propinsi atau lintas batas negara

Apa kaitan AMDAL dengan dokumen/kajian lingkungan lainnya ?

 AMDAL-UKL/UPL

 Rencana kegiatan yang sudah ditetapkan wajib menyusun AMDAL tidak lagi diwajibkan menyusun UKL-UPL (lihat penapisan Keputusan Menteri LH 17/2001). UKL-UPL dikenakan bagi kegiatan yang telah diketahui teknologi dalam pengelolaan limbahnya.

 AMDAL dan Audit Lingkungan Hidup Wajib

 Bagi kegiatan yang telah berjalan dan belum memiliki dokumen pengelolaan lingkungan hidup (RKL-RPL) sehingga dalam operasionalnya menyalahi peraturan perundangan di bidang lingkungan hidup, maka kegiatan tersebut tidak bisa dikenakan kewajiban AMDAL, untuk kasus seperti ini kegiatan tersebut dikenakan Audit Lingkungan Hidup Wajib sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 30 tahun 2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Audit Lingkungan yang Diwajibkan.

 Audit Lingkungan Wajib merupakan dokumen lingkungan yang sifatnya spesifik, dimana kewajiban yang satu secara otomatis menghapuskan kewajiban lainnya kecuali terdapat kondisi-kondisi khusus yang aturan dan kebijakannya ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup.

 Kegiatan dan/atau usaha yang sudah berjalan yang kemudian diwajibkan menyusun Audit Lingkungan tidak membutuhkan AMDAL baru.

AMDAL dan Audit Lingkungan Hidup Sukarela

 Kegiatan yang telah memiliki AMDAL dan dalam operasionalnya menghendaki untuk meningkatkan ketaatan dalam pengelolaan lingkungan hidup dapat melakukan audit lingkungan secara sukarela yang merupakan alat pengelolaan dan pemantauan yang bersifat internal. Pelaksanaan Audit Lingkungan tersebut dapat mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 42 tahun 1994 tentang Panduan umum pelaksanaan Audit Lingkungan.

 Penerapan perangkat pengelolaan lingkungan sukarela bagi kegiatan-kegiatan yang wajib AMDAL tidak secara otomatis membebaskan pemrakarsa dari kewajiban penyusunan dokumen AMDAL. Walau demikian dokumen-dokumen sukarela ini sangat didorong untuk disusun oleh pemrakarsa karena sifatnya akan sangat membantu efektifitas pelaksanaan pengelolaan lingkungan sekaligus dapat “memperbaiki” ketidaksempurnaan yang ada dalam dokumen AMDAL.

 Dokumen lingkungan yang bersifat sukarela ini sangat bermacam-macam dan sangat berguna bagi pemrakarsa, termasuk dalam melancarkan hubungan perdagangan dengan luar negeri. Dokumen-dokumen tersebut antara lain adalah Audit Lingkungan Sukarela, dokumen-dokumen yang diatur dalam ISO 14000, dokumen-dokumen yang dipromosikan penyusunannya oleh asosiasi-asosiasi industri/bisnis, dan lainnya.

 Sumber: http://www.menlh.go.id/amdal

Perawatan Metode Kanguru (PMK) atau Kangaroo Mother Care (KMC)

Standard

Masalah utama bayi baru lahir pada masa perinatal dapat menyebabkan kematian, kesakitan dan kecacatan. Hal ini merupakan akibat dari kondisi kesehatan ibu yang jelek, perawatan selama kehamilan yang tidak adekuat, penanganan selama persalinan yang tidak tepat dan tidak bersih, serta perawatan neonatal yang tidak adekuat. Bila ibu meninggal saat melahirkan, kesempatan hidup yang dimiliki bayinya menjadi semakin kecil. Kematian neonatal tidak dapat diturunkan secara bermakna tanpa dukungan upaya menurunkan kematian ibu dan meningkatkan kesehatan ibu. Perawatan antenatal dan pertolongan persalinan sesuai standar, harus disertai dengan perawatan neonatal yang adekuat dan upaya-upaya untuk menurunkan kematian bayi akibat bayi berat lahir rendah, infeksi pasca lahir (seperti tetanus neonatorum, sepsis), hipotermia dan asfiksia. Sebagian besar kematian neonatal yang terjadi pasca lahir disebabkan oleh penyakit – penyakit yang dapat dicegah dan diobati dengan biaya yang tidak mahal, mudah dilakukan, bisa dikerjakan dan efektif.

Penyebab Kematian Neonatal di Indonesia Penyebab Kematian Neonatal Berdasarkan SKRT tahun 2001

  • Asfiksia 29%
  • BBLR/ Prematuritas 27%
  • Tetanus 10%
  • Masalah Pemberian ASI 10%
  • Masalah Hematologi 6%
  • Infeksi 5%

Penyebab Kematian Neonatal Berdasarkan Riskesdas tahun 2007

  • Gangguan/Kelainan Pernapasan 35,9%
  • Prematuritas 32,4%
  • Sepsis 12%
  • Hipotermi 6,3%
  • Kelainan darah/Ikterus 5,6 %
  • Post Matur 2,8%
  • Kelainan Kongenital 1,4%

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

Sekitar 11,5 % bayi lahir dengan berat lahir rendah kurang dari 2500 gram (Riskesdas 2007). Data dari SKRT 2001 menunjukkan bahwa Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor terpenting kematian neonatal. Penyumbang utama kematian BBLR adalah prematuritas, infeksi, asfiksia lahir, hipotermia dan pemberian ASI yang kurang adekuat. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa kematian karena hipotermia pada bayi berat lahir rendah (BBLR) dan bayi prematur jumlahnya cukup bermakna. Perilaku/kebiasaan yang merugikan seperti memandikan bayi segera setelah lahir atau tidak segera menyelimuti bayi setelah lahir, dapat meningkatkan risiko hipotermia pada bayi baru lahir. Intervensi untuk menjaga bayi baru lahir tetap hangat dapat menurunkan kematian neonatal sebanyak 18-42% (The Lancet Neonatal Survival 2005).

Air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi hingga berusia 6 bulan.Walaupun proporsi bayi yang pernah mendapat ASI cukup tinggi yaitu 95,7% (SDKI 2007), namun proporsi ASI eksklusif pada bayi 0 – 6 bulan masih rendah yaitu 32,4% (SDKI 2007), demikian juga dengan proporsi bayi mendapat ASI sekitar 1 jam setelah lahir yaitu 43,9% (SDKI 2007). Tidak memberikan kolostrum merupakan salah satu kebiasaan merugikan yang sering ditemukan. Pemberian ASI dapat menurunkan kematian neonatal hingga 55-87% (The Lancet Neonatal Survival 2005).

Perawatan Metode Kanguru (PMK)

BBLR membutuhkan bantuan dan waktu untuk penyesuaian kehidupan di luar rahim. Mereka juga memerlukan bantuan untuk tetap hangat dan mendapatkan ASI yang cukup untuk tumbuh. Satu cara untuk menolong bayi mendapatkan kebutuhan ini adalah menjaga bayi tetap kontak kulit dengan kulit ibunya. Perawatan metode kanguru adalah suatu cara agar BBLR terpenuhi kebutuhan khusus mereka terutama dalam mempertahankan kehangatan suhu tubuh. Untuk melakukan PMK, tentukan bayi memiliki berat lahir <2500 gram, tanpa masalah/komplikasi.

Butir untuk diingat, diperhatikan dan dilaksanakan:

  • Perawatan metode kanguru adalah suatu cara perawatan untuk BBLR yang sederhana dan mudah dikerjakan di mana saja dengan mendekap bayi agar kulit bayi bersentuhan langsung dengan kulit ibu.
  • Kontak kulit bayi dengan ibu dapat mempertahankan suhu bayi, mencegah bayi kedinginan
  • Keuntungan untuk bayi: bayi menjadi hangat, bayi lebih sering menetek, banyak tidur dan tidak rewel, sehingga kenaikan berat badan lebih cepat
  • Keuntungan untuk ibu: hubungan kasih sayang lebih erat dan ibu bisa bekerja sambil menggendong bayinya.

Syarat melakukan PMK :

  • Bayi tidak mengalami Kesulitan Bernapas
  • Bayi tidak mengalami Kesulitan Minum
  • Bayi tidak Kejang
  • Bayi tidak Diare
  • Ibu dan keluarga bersedia dan tidak sedang sakit

Lakukan PMK untuk menghangatkan bayi bila memenuhi syarat diatas. Metoda kanguru sangat baik dilakukan selama dalam perjalanan ke tempat rujukan. Metoda ini berguna untuk mempercepat terjadinya kestabilan suhu tubuh dan merangsang bayi baru lahir segera mengisap puting payudara ibu.

Pelaksanaan PMK memiliki 4 komponen :

  1. Posisi
  2. Nutrisi
  3. Dukungan
  4. Pemantauan
  1. Posisi Melakukan Perawatan Metode Kanguru (PMK)

Bayi telanjang dada (hanya memakai popok,topi, kaus tangan, kaus kaki), diletakkan telungkup di dada dengan posisi tegak atau diagonal. Tubuh bayi menempel/kontak langsung dengan ibu. Atur posisi kepala, leher dan badan dengan baik untuk menghindari terhalangnya jalan napas. Kepala menoleh ke samping di bawah dagu ibu (ekstensi ringan). Tangan dan kaki bayi dalam keadaan fleksi seperti posisi “katak”

pmk

Kemudian “fiksasi” dengan selendang

 pmk2

Ibu mengenakan pakaian/blus longgar sehingga bayi berada dalam 1 pakaian dengan ibu. Jika perlu, gunakan selimut.

 pmk3

Sumber gambar: www.dokteranakku.net

2.      Nutrisi. 

Selama pelaksanaan PMK, BBLR hanya diberikan ASI. Melalui PMK akan mendukung dan mempromosikan pemberian ASI eksklusif, karena ibu menjadi lebih cepat tanggap bila bayi ingin menyusu. Bayi bisa menyusu lebih lama dan lebih sering. Bila bayi dibawa ke fasilitas kesehatan dan bayi tidak mampu menelan ASI dapat dilakukan pemasangan Oro Gastric Tube (OGT) untuk dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

3.      Dukungan.

Keluarga memberikan dukungan pada ibu dan bayi untuk pelaksanaan perawatan metoda kanguru. Di fasilitas kesehatan , pelaksanaan PMK akan dibantu oleh petugas kesehatan.

4.      Pemantauan. 

BBLR yang dirawat di fasilitas kesehatan yang dapat dipulangkan lebih cepat (berat < 2000 gram) harus dipantau untuk tumbuh kembangnya. Apabila didapatkan tanda bahaya harus dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Kunjungi BBLR minimal dua kali dalam minggu pertama, dan selanjutnya sekali dalam setiap minggu sampai berat bayi 2500 gram dengan mempergunakan algoritma MTBM.

Hal- hal yang perlu dipantau selama PMK:

  • Pastikan suhu aksila normal (36,5 – 37,5 ° C )
  • Pastikan pernapasan normal (30-60 X/menit)
  • Pastikan tidak ada tanda bahaya
  • Pastikan bayi mendapatkan ASI yang cukup (minimal menyusu tiap 2 jam)
    Pastikan pertumbuhan dan perkembangan baik (berat badan akan turun pada minggu pertama antara 10-15%, pertambahan berat badan pada minggu kedua 15g/KgBB/hari).

Sumber :

BUKU SAKU Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial Pedoman Teknis Pelayanan Kesehatan Dasar, Kementerian Kesehatan RI, 2011

http://www.dokteranakku.net